INformasinasional.com, SERGAI – Ditengah ancaman abrasi dan degradasi kawasan pesisir yang terus menghantui pantai timur Sumatera Utara, mahasiswa Fakultas Dakwah dan Komunikasi Universitas Islam Negeri Sumatera Utara (FDK UINSU) memilih bergerak dengan aksi nyata. Melalui program “Gerakan Hijau Pesisir”, sebanyak 2.000 bibit pohon mangrove ditanam di kawasan pesisir Desa Pematang Kuala, Kecamatan Teluk Mengkudu, Kabupaten Serdang Bedagai, Rabu (1/7/2026).
Gerakan hijau yang digagas DEMA, SEMA, dan HMPS FDK UINSU tersebut bukan sekadar seremoni penanaman pohon. Aksi ini menjadi simbol kepedulian generasi muda dalam menjaga benteng alami pesisir sekaligus memperkuat komitmen kampus terhadap pelestarian lingkungan yang berkelanjutan.
Kegiatan tersebut dihadiri Wakil Dekan III Bidang Kemahasiswaan, Alumni, dan Kerja Sama FDK UINSU Prof. Dr. Anang Anas Azhar, MA, Kepala Dusun I sekaligus Ketua Kelompok Tani Mangrove Herman, perwakilan Pemerintah Desa Pematang Kuala Rubino, mahasiswa FDK UINSU, serta tokoh masyarakat setempat.
Dari unsur organisasi mahasiswa tampak hadir Ketua Umum SEMA FDK UINSU Muhammad Ali Akbar Lubis, Ketua Umum HMPS Manajemen Dakwah Nuriansyah Habibi, beserta jajaran pengurus HMPS Komunikasi dan Penyiaran Islam (KPI), Pengembangan Masyarakat Islam (PMI), dan Bimbingan Penyuluhan Islam (BPI).
Dalam sambutannya, Prof. Anang Anas Azhar memberikan apresiasi tinggi atas kepedulian mahasiswa yang memilih turun langsung menjaga kelestarian lingkungan pesisir. Menurutnya, langkah tersebut merupakan implementasi nyata Tri Dharma Perguruan Tinggi, khususnya pada aspek pengabdian kepada masyarakat.
“Hari ini saya merasa bangga dan memberikan apresiasi setinggi-tingginya atas kegiatan penanaman pohon mangrove ini. Semoga gerakan seperti ini terus berlanjut dan mampu menginspirasi mahasiswa lainnya, tidak hanya di lingkungan FDK UINSU, tetapi juga fakultas-fakultas lain,” katanya.
Ia menegaskan, Gerakan Hijau Pesisir tidak boleh berhenti sebagai kegiatan simbolis. Lebih dari itu, gerakan ini harus menjadi pintu masuk membangun kesadaran ekologis dikalangan mahasiswa dalam menghadapi ancaman abrasi, kerusakan habitat, pencemaran, hingga dampak perubahan iklim yang semakin nyata di wilayah pesisir.
Prof. Anang juga memperkenalkan pentingnya perspektif ekoteologi, yakni memandang pelestarian alam sebagai bagian dari tanggung jawab spiritual manusia kepada Tuhan, sesama, dan seluruh makhluk hidup.
Menurutnya, keberadaan mangrove memiliki peran strategis sebagai benteng alami penahan abrasi, penyerap karbon, sekaligus habitat berbagai biota laut yang menopang kehidupan masyarakat pesisir.
“Saya berharap melalui penanaman mangrove ini kondisi lingkungan pesisir semakin baik. Habitat ikan dan kepiting dapat berkembang, sehingga manfaat ekologis maupun ekonomi benar-benar dirasakan masyarakat sekitar,” katanya.
Urgensi gerakan ini semakin kuat jika melihat kondisi geografis Kabupaten Serdang Bedagai. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), Kecamatan Teluk Mengkudu memiliki bentangan garis pantai sekitar delapan kilometer yang membujur di pesisir Selat Malaka. Empat desa diwilayah tersebut, Pekan Sialang Buah, Sentang, Bogak Besar, dan Pematang Kuala, sampai berhadapan langsung dengan kawasan pantai yang rentan terhadap abrasi.
Sementara itu, secara keseluruhan Kabupaten Serdang Bedagai memiliki garis pantai sekitar 55 kilometer yang membentang dilima kecamatan, yakni Pantai Cermin, Perbaungan, Teluk Mengkudu, Tanjung Beringin, dan Bandar Khalipah. Kondisi tersebut menjadikan upaya konservasi pesisir sebagai kebutuhan mendesak yang hanya dapat berhasil melalui kolaborasi pemerintah, masyarakat, kelompok nelayan, perguruan tinggi, serta organisasi mahasiswa.
Desa Pematang Kuala sendiri memiliki kawasan hutan mangrove seluas sekitar 52 hektare yang menjadi habitat penting bagi berbagai jenis tumbuhan mangrove, ikan, kepiting, dan biota pesisir lainnya. Karena itu, penanaman, perawatan, serta rehabilitasi kawasan mangrove harus dilakukan secara berkesinambungan.
Ketua Umum SEMA FDK UINSU, Muhammad Ali Akbar Lubis, menyampaikan apresiasi kepada Pemerintah Desa Pematang Kuala dan Kelompok Tani Mangrove yang telah membuka ruang kolaborasi bagi mahasiswa.
Menurutnya, pengalaman turun langsung kelapangan memberikan pembelajaran yang tidak bisa diperoleh hanya melalui bangku kuliah.
“Mahasiswa tidak hanya belajar teori diruang kelas, tetapi juga memahami langsung kondisi lingkungan dan kehidupan masyarakat. Dari kegiatan ini kami belajar bagaimana menanam, merawat, sekaligus memahami pentingnya menjaga ekosistem mangrove,” ujarnya.
Ali Akbar menegaskan bahwa Gerakan Hijau Pesisir harus terus dikembangkan sebagai gerakan kolektif yang melibatkan seluruh elemen masyarakat. Baginya, penanaman mangrove merupakan langkah konkret dalam menjaga keseimbangan ekosistem, mengurangi dampak abrasi, sekaligus membangun kepedulian generasi muda terhadap masa depan lingkungan.
Senada dengan itu, Kepala Dusun I sekaligus Ketua Kelompok Tani Mangrove Desa Pematang Kuala, Herman, menyampaikan terima kasih atas kepedulian mahasiswa FDK UINSU.
Ia berharap seluruh bibit mangrove yang telah ditanam dapat dirawat hingga tumbuh optimal sebagai benteng alami kawasan pesisir, sekaligus menjadi habitat berbagai biota laut yang menopang kehidupan masyarakat nelayan.
Kegiatan kemudian ditutup dengan komitmen bersama antara pihak kampus, pemerintah desa, kelompok tani, dan masyarakat pesisir untuk terus merawat tanaman mangrove serta memperkuat sinergi dalam menjaga kelestarian kawasan pantai.
Gerakan ini menjadi pesan kuat bahwa menyelamatkan pesisir tidak cukup hanya melalui wacana. Dibutuhkan aksi nyata, kolaborasi lintas sektor, dan kepedulian generasi muda agar benteng hijau disepanjang pantai tetap berdiri kokoh menghadapi ancaman perubahan lingkungan dimasa depan.*
Editor: Misno






Discussion about this post