INformasinasional.com, LANGKAT —
Lumpur banjir yang mulai kering disejumlah kecamatan di kabupaten Langkat mulai mengikis trauma yang sempat melekat diingatan warga. Untuk membangun keceriaan warganya, Bupati Langkat H Syah Afandin SH memilih turun langsung. Kamis (22/1/2026), ia menyalurkan donasi Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI) kepada guru dan tenaga kependidikan (GTK) terdampak banjir di Kecamatan Tanjung Pura, suatu pesan politik sekaligus moral, negara tak boleh absen saat bencana menggerus sendi kehidupan.
Penyaluran bantuan dipusatkan di SD Negeri 050727 Tanjung Pura, berbarengan dengan pembukaan Konferensi Cabang PGRI Kecamatan Tanjung Pura masa bakti XXIII 2026–2031. Dua agenda dikunci dalam satu bingkai besar, solidaritas dan tekad agar pendidikan tak ikut hanyut oleh bencana alam.
Ada 105 guru dan tenaga kependidikan menerima bantuan berupa beras 5 kilogram dan uang tunai Rp300 ribu per orang. Angkanya barangkali kecil jika ditakar secara ekonomi. Namun ditengah situasi darurat, bantuan itu menjelma simbol pengakuan, kalangan pendidik bukan sekadar pengajar diruang kelas, melainkan korban yang juga berhak dipulihkan.
“Pemerintah daerah akan terus hadir, terutama saat guru dan tenaga kependidikan berada dalam situasi sulit,” kata Syah Afandin. Ia menekankan, bantuan tersebut bukan sekadar belas kasih, melainkan ikhtiar menjaga nyala semangat para pendidik agar roda pendidikan tetap berputar meski dihantam bencana.
Bupati Langkat juga memberi kredit politik kepada PGRI yang dinilainya konsisten berdiri dibarisan guru. Menurutnya, konferensi cabang bukan seremoni rutin atau ajang tukar kursi kepengurusan, melainkan ruang konsolidasi agar PGRI tetap menjadi mitra kritis, bukan sekadar penggembira bagi pemerintah daerah.
Ketua PGRI Kabupaten Langkat, Sagino, mengungkapkan bantuan tersebut bersumber dari donasi PGRI Kabupaten Langkat, PB PGRI Pusat, serta kontribusi para donatur.
Penyaluran dilakukan bertahap, dan pada tahap awal bahkan dihadiri langsung Ketua Umum PB PGRI Pusat, Prof Dr Unifah Rosyidi.
“Ini gotong royong organisasi. Saat guru terdampak, PGRI harus berada digaris depan, bukan dibalik meja,” kata Sagino.
Sementara itu, Ketua PGRI Kecamatan Tanjung Pura, Sukri Karnadi, menyebut kehadiran langsung Bupati Langkat sebagai suntikan moral yang tak ternilai. Ia menilai konferensi cabang kali ini menjadi momentum refleksi sekaligus merumuskan gagasan baru untuk menjaga mutu pendidikan ditengah tekanan sosial dan ancaman bencana yang kian berulang.
“Bantuan ini bukan sekadar sembako dan uang. Ini soal perhatian dan keberpihakan,” katanya.
Acara berlangsung tertib dan tanpa gegap gempita berlebihan. Namun pesannya jelas dan menggema, ketika banjir merampas rasa aman, solidaritas menjadi benteng terakhir. Dan di Langkat, setidaknya hari itu, pendidikan memilih untuk tidak tenggelam.(Misno)






Discussion about this post